Penerapan Customer Relationship Management Dalam Rangka Menciptakan Sarjana Yang Berkualitas (Featuring Ilalang Agribisnis)
Sebuah lembaga studi formal tentu diciptakan dengan memiliki visi dan misi. Dan salah satu visi dari semua lembaga studi adalah untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu sesuai dengan tujuan yang telah ditargetkan. Secara kasat mata, tentu kita dapat membedakan antara lulusan yang berkualitas dan yang tidak berkualitas.
Sebagai contoh, sebuah program studi di suatu perguruan tinggi. Program studi dibentuk dengan tujuan mencetak sarjana yang berkompeten di spesialisasi bidang yang diampu program studi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu diperlukan misi-misi yang harus dilakukan oleh program studi tersebut. Sebaliknya, kendati sebuah program studi mampu melahirkan sarjana yang berkualitas, maka akan menjadi sia-sia apabila di dunia kerja tidak ada demand yang menginginkan spesialis bidang yang telah diampu.
Tentu, selain untuk menciptakan lulusan sarjana yang berkualitas, sebuah program studi juga memiliki tujuan tersendiri untuk mempertahankan eksistensinya, yaitu dengan cara memperoleh profitabilitas. Karena itu, meskipun sebuah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta bergerak di bidang pendidikan tinggi, namun pelaksanaannya tidak terlepas dari lingkungan bisnis.
Dalam bisnis kekinian, kita telah mengenal istilah Customer Relationship Management (CRM). Menurut Levens (2010) dalam bukunya yang berjudul Marketing: Defined, Explained, Applied, CRM didefinisikan sebagai bentuk komitmen sebuah organisasi untuk mengembangkan dan membentuk hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan, baik dengan konsumen yang sudah ada maupun dengan konsumen potensial. Dengan adanya CRM, diharapkan perusahaan tidak hanya berfokus untuk menggapai konsumen baru dan hanya melakukan satu alur bisnis, melainkan juga menjaga hubungan baik dengan konsumen lama, sehingga tercipta repeat order.
Secara umum, pengembangan CRM dibagi ke dalam empat tahapan. Tahap pertama yaitu Understand and Differentiate, yaitu memahami keinginan konsumen dengan membuat klasifikasi berdasarkan karakter dan perilaku konsumen. Tahap kedua adalah Develop and Customize, yaitu mengembangkan produk dan layanannya, serta membuat diferensiasi produk berdasarkan segmentasi yang telah dibuat. Tahap ketiga adalah Interact and Deliver, yaitu memulai interaksi dengan calon konsumen maupun dengan konsumen yang sudah ada, dengan menawarkan nilai tambah yang dimiliki oleh produk tersebut. Terakhir adalah Acquire and Retain, yaitu mendapatkan konsumen baru dan mempertahankannya, serta menjaga hubungan baik dengan konsumen yang sudah ada.
Konsep CRM sangat memungkinkan, bahkan sudah seharusnya diterapkan dalam business process program studi di sebuah universitas. Sebuah program studi yang sudah berdiri tentu sudah direncanakan berdasarkan kebutuhan dari dunia kerja yang relevan. Di dalam dunia kerja tentu tidak hanya mengandalkan satu disiplin ilmu dalam arti luas, namun terbagi lagi menjadi beragam spesialisasi ilmu yang dapat saling berkolaborasi dalam berbagai industri.
Sebuah program studi yang telah berdiri pastinya sudah menyusun struktur yang terorganisir, meliputi susunan tenaga pengajar yang terspesifikasi bidangnya, pelayanan akademik dan non akademik, hingga pilihan peminatan yang tersedia guna menunjang kompetensi dari calon lulusannya. Kemudian, dalam pelaksanaan perkuliahan, program studi diharapkan mampu memberikan nilai-nilai tambah yang tidak cukup diperoleh dari pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan pemberdayaan yang dapat diberikan kepada mahasiswa dapat berupa kelompok minat dan bakat, pelatihan soft skill dan hard skill, serta penelitian terintegrasi yang di dalamnya mengkolaborasikan dosen dan mahasiswa.
Pada tingkat lanjutan, program studi dapat mengajak mahasiswa untuk terlibat dalam program asistensi dosen. Program asisten dosen ini tidak sekadar membantu dalam kegiatan administratif, namun juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan teoritis yang mampu mengasah pengetahuan yang telah dipelajari selama ini, sehingga dapat membagikan ilmu dan pengalamannya kepada adik-adik tingkat dalam kegiatan perkuliahan, baik di dalam kelas bersama dengan dosen yang didampingi, maupun di luar kelas dalam bentuk kegiatan mentoring. Dari sisi pihak program studi, program asistensi dosen dapat menguntungkan karena tidak memerlukan resource tambahan dari luar program studi untuk menunjang kegiatan perkuliahan. Dari sisi pihak mahasiswa, hal ini dapat membantu untuk memperoleh pengalaman dan jam terbang sebelum terjun ke dalam dunia kerja yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, dari serangkaian pelayanan yang telah diberikan oleh program studi kepada mahasiswanya, maka akan menciptakan ikatan emosional antara mahasiswa dengan almamater kebanggaannya. Karena itu, setelah mahasiswa meraih gelar sarjana, maka akan lebih baik jika program studi menyediakan wadah berupa ikatan alumni untuk dapat menjaga silaturahmi antara alumni dengan civitas akademik yang masih aktif. Selain itu, alumni yang merasa puas dengan pengalaman kuliahnya tentu akan merekomendasikan kepada orang-orang terdekat yang akan berkuliah dan ingin mendaftar di program studi tersebut. Dan yang terakhir, adanya ikatan alumni juga diharapkan dapat memberikan ruang bagi alumni untuk kembali mengabdi dalam lingkungan program studi, baik sebagai pengisi acara dalam kegiatan informal, atau bahkan kembali bergabung menjadi dosen maupun staff ahli akademik.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak pulang untuk kembali mengabdi bagi almamaternya? Tentu mereka akan menjadi lulusan yang berkualitas, dan siap menjawab tantangan di dunia yang sesungguhnya. Mereka siap membawa nama harum almamater, di manapun mereka berkarir.
Komentar
Posting Komentar
Ingatlah untuk selalu berkomentar dengan menggunakan kata-kata yang sopan. Komentar yang tidak pantas akan dihapus.