Langsung ke konten utama

Metode Transportasi, Anak Logistik Wajib Tahu, Nih!

Sumber: Unsplash

Tidak terasa, sudah empat tahun perusahaan milik Tarjo berdiri, Tani.co namanya. Perusahaan ini bergerak di bidang agribisnis, dengan menyuplai produk pertanian hasil karya petani lokal dari wilayah Pulau Jawa. Kini, perusahaan ini memiliki enam warehouse yang terletak di Jakarta, Bandung, Cirebon, Purwokerto, Semarang, dan Yogyakarta. Banyaknya warehouse yang dimiliki bukan tanpa alasan. Karena Tani.co setiap harinya melayani lebih dari seribu konsumen yang tersebar di wilayah Pulau Jawa dan Sumatera.

Dalam prinsip bisnis, setiap pengusaha menginginkan keuntungan yang besar dengan biaya seminimal mungkin. Prinsip ini yang juga dipertahankan oleh Tarjo. Setiap hari, Tarjo selalu dibuat pusing dalam menentukan skema pengiriman produk dari warehouse hingga sampai ke tangan konsumen. Terlebih Tarjo memiliki lebih dari satu lokasi usaha dengan permintaan yang jumlahnya bervariasi pada setiap pelanggannya.

Sebagai contoh, Tarjo memiliki pelanggan setia yang berada di Kota Temanggung, dengan permintaan sebesar 100 kg kangkung setiap harinya. Otomatis, terdapat dua warehouse terdekat yang dapat mengirim produk ke pelanggan tersebut, yaitu Semarang dan Yogyakarta. Warehouse Semarang dapat menyediakan sebanyak 100 kg kangkung dalam sehari, sementara Yogyakarta mampu menyediakan sebanyak 250 kg kangkung dalam sehari. Dengan biaya pengiriman yang sedikit lebih mahal apabila dikirim dari Yogyakarta, apakah Tarjo akan memilih mengirim kangkung dari warehouse Semarang? Namun, resiko yang akan dihadapi oleh Tarjo adalah warehouse Semarang akan langsung kehabisan stok kangkung, sehingga tidak mampu mengirim kangkung lagi ke pelanggan lain yang ada di sekitar Kota Semarang.

Ya, seluruh cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Dan ini adalah salah satu contoh permasalahan yang dapat diselesaikan dengan Metode Transportasi. Namun, yang akan dibahas di sini bukan tentang apa alat transportasi yang digunakan, serta melalui jalur darat, laut, atau udara. Pada kesempatan ini, teman-teman sedang membaca pembahasan mengenai lanjutan dari alat analisis dari Riset Operasi.

Metode Transportasi sebenarnya masih merupakan bagian dari Linear Programming, namun dengan cara menghitung yang sedikit berbeda. Tujuan dari Metode Transportasi adalah untuk menentukan skema distribusi suatu produk dari suatu sumber ke lokasi tujuan dengan biaya pengiriman serendah-rendahnya. Ada beberapa kondisi yang harus terpenuhi untuk dapat memenuhi syarat sebuah masalah distribusi dapat diselesaikan dengan metode transportasi, antara lain:

1. Terdapat sejumlah sumber pengiriman produk dan beberapa lokasi tujuan.
2. Jenis produk yang dikirimkan dari setiap sumber adalah sama/homogen.
3. Setiap sumber memiliki kapasitas tertentu, dan setiap lokasi tujuan memiliki kapasitas permintaan tertentu.
4. Kuantitas produk yang dikirim tidak melebihi kapasitas permintaan maupun kapasitas sumber.
5. Biaya pengiriman dari setiap sumber ke setiap lokasi tujuan sudah diketahui.

Untuk memahami konsep Metode Transportasi secara umum, permasalahan Metode Transportasi dituliskan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

Sumber: Teguh, Rizani dan Sudiadi (2014)

Keterangan:
Xij = unit yang dikirim dari sumber i ke tujuan j
Cij = biaya perunit dari sumber i ke tujuan j
ai = kapasitas penawaran (supply) dari sumber i
bi = kapasitas permintaan (demand) dari tujuan j
i = 1,2.......m
j = 1,2.......n

Dalam mencari hasil akhir dari sebuah Metode Transportasi, kita mengenal dua solusi, yaitu solusi awal dan solusi optimal. Dalam solusi awal, terdapat tiga metode perhitungan biaya minimum, yaitu Metode Sudut Barat Laut, Metode Least Cost (Biaya Terendah), dan Metode VAM (Vogel Approximation). Metode-metode tersebut digunakan untuk mengetahui estimasi biaya terendah secara cepat, karena langkah-langkah perhitungan dalam solusi awal masih tergolong sederhana.

Untuk memastikan apakah nilai biaya minimum yang didapatkan sudah benar-benar tepat, kita perlu melakukan penentuan menggunakan solusi optimal. Terdapat dua metode dalam mencari solusi optimal, yaitu dengan Metode Stepping Stone dan Metode MODI (Modified Distribution). Meski demikian, terdapat kelemahan dalam metode ini, yaitu tahap perhitungan yang lebih rumit dibandingkan dengan solusi awal. Namun, kelebihan dari metode ini adalah kita dapat langsung menggunakannya tanpa perlu melalui perhitungan solusi awal, jika kita memang menginginkan perhitungan biaya pengiriman minimum secara akurat.

Tentu, Metode Transportasi akan sangat sulit diterapkan dalam dunia usaha, apabila tidak dibantu menggunakan software yang mumpuni. Karena perusahaan dituntut untuk membuat keputusan secara cepat dan tepat dalam menentukan skema pengiriman produk. Saat ini, sudah tersedia software yang khusus didesain untuk menyelesaikan permasalahan Metode Transportasi, seperti POM-QM dan LINDO. Dengan adanya alat bantu berupa software, kita tidak perlu memikirkan lagi metode perhitungan mana yang akan kita gunakan untuk mendapatkan biaya minimum.

Demikian pembahasan singkat kali ini mengenai Metode Transportasi. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara menghitung dari solusi awal hingga solusi optimal, teman-teman dapat mencari di berbagai literatur yang tersedia di jagad maya. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya!

Referensi
Taha, Hamdy A. 1987. Operation Research: An Introduction. USA: Prentice Hall.
Siang, Jong Jek. 2011. Riset Operasi dalam Pendekatan Algoritmis. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Hillier, Frederick S. dan Gerald J. Lieberman. 2001. Introduction to Operation Research. New York: McGraw-Hill.
Syaifuddin, Dedy Takdir. Riset Operasi (Aplikasi Quantitative Analysis for Management). Malang: CV. Citra Malang.
Teguh, Rizani dan Sudiadi. 2014. Diktat Teknik Riset Operasional. Palembang: Sekolah Tinggi Manajemen Informatika.
Bu’ulolo, Faigiziduhu. Operasi Riset Program Linier. Medan: USU Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarjana Pertanian jadi Anak IT, Gelarnya Ga Kepake?

Bismillah, Assalamualaikum semuanyaa! Oke, kali ini gua pengen bikin tulisan yang sedikit ga formal yaa. Disclaimer  dulu, kalo tulisan ini dibuat bukan untuk sombong. Lagian, apa sih yang mau disombongin dari gua? Wkwkwk. Lebih tepatnya, tulisan ini buat meyakinkan kita semua, khususnya buat diri sendiri, terhadap dilema berkarir tapi ga sesuai jurusan. Atau, bingung di persimpangan antara menjadi spesialis, atau generalis. Well , semoga tulisan pengantar tidur ini bisa jadi sedikit motivasi buat temen-temen yang mengakhiri hari Senin ini dengan rasa capek. Long short story , setelah gua wisuda di Februari 2020, pandemi menyapa. Siapa si yang ga kena dampak coba? PHK di mana-mana, nyari kerja susah, yang kuliah jadi terhambat, macem-macem deh pokoknya. Termasuk gua, di mana setelah wisuda, gua pun sempet bingung, mau ngapain abis ini? Tiba-tiba aja, gua dapet inspirasi buat belajar UI design gara-gara ngeliat foto-foto mock up  di IG. Lalu, ketemu lah gua sama website Build ...