Langsung ke konten utama

Supply Chain Management, dan Peran Startup Pertanian

Dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen, kita tak bisa lepas dari dunia rantai pasok, atau bahasa kerennya Supply Chain. Hal ini berlaku untuk semua jenis produk, tak terkecuali dengan produk pertanian. Nasi yang kita konsumsi sehari-hari, ayam goreng yang selalu jadi lauk andalan kita, semuanya berasal dari tangan dingin para petani dan peternak di luar sana. Lalu, apa yang dimaksud dengan rantai pasok?

Sebenarnya, sudah ada teaser dari jawaban pertanyaan di atas lho. Jika kita lihat, terdapat kata kunci “konsumsi” dan “berasal dari petani”. Yup, menurut Ganeshan dan Harrison (1995), rantai pasok merupakan “jaringan fasilitas dan opsi distribusi yang melakukan fungsi pengadaan bahan, transformasi bahan-bahan ini menjadi produk setengah jadi dan produk akhir, serta distribusi produk kepada pelanggan”. Sederhananya, rantai pasok merupakan alur distribusi produk yang dimulai dari produsen hingga sampai ke konsumen. Secara umum, model dasar dari rantai pasok adalah sebagai berikut.

Sumber: Lu (2011)

Ya, seperti pada gambar di atas, jika kita ilustrasikan sebagai nasi, maka bermula dari petani yang memproduksi beras, yang selanjutnya diproses di manufaktur untuk dilakukan serangkaian proses sortasi dan pengemasan, lalu diantar menuju pusat-pusat distributor, dan kembali didistribusikan melalui retail, hingga beras dibeli oleh konsumen akhir, untuk selanjutnya dimasak menjadi nasi.

Umumnya, dalam satu alur rantai pasok, setiap tahapan diisi oleh pelaku usaha yang berbeda-beda. Sehingga aktivitas rantai pasok sarat akan resiko. Terjadinya miskomunikasi, kesalahan perkiraan permintaan dan produksi, hingga terjadinya keterlambatan distribusi adalah beberapa contoh permasalahan dalam rantai pasok, yang menyebabkan kerusakan dan penurunan baik kualitas maupun kuantitas terhadap suatu produk.

Berangkat dari permasalahan tersebut, kita menyadari bahwa kehadiran manajemen penting untuk meminimalisir resiko yang ada dalam aktivitas rantai pasok. Kembali kita mengulik pernyataan ahlinya. Menurut Hugos (2011), manajemen rantai pasok adalah “koordinasi produksi, inventaris, lokasi, dan transportasi di antara pelaku rantai pasok untuk mencapai paduan responsif dan efisiensi terbaik untuk pasar yang dilayani”. Dengan kata lain, manajemen rantai pasok adalah seni mengelola fungsi dari setiap tahap rantai pasok untuk mencapai keberhasilan rantai pasok. Dalam manajemen rantai pasok, terdapat alur pertimbangan yang harus dilakukan oleh setiap pelaku usaha di setiap tahapan rantai pasok, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Sumber: Hugos (2011)

Melihat banyaknya pertimbangan dalam setiap tahapan rantai pasok, dapat kita lihat bahwa semakin panjang rantai pasok, maka semakin besar kemungkinan resiko-resiko yang ada terjadi. Terlebih, jika setiap tahapnya diisi oleh berbagai pelaku usaha yang berbeda-beda. Karena selain alur perpindahan produk, di dalam rantai pasok juga terjadi alur pembayaran dan arus informasi dua arah. Lalu, apa saja dampak yang akan dirasakan dari dinamika rantai pasok?

Harga jual produk adalah hal yang pertama kali terkena dampaknya. Rantai pasok yang panjang menyebabkan produk melewati beberapa distributor sebelum sampai ke tangan konsumen. Artinya, terjadi beberapa kali transaksi yang menyebabkan harga produk melambung. Arus pembayaran mungkin menguntungkan bagi pelaku industri dan distributor, namun, apakah hal serupa juga dirasakan oleh supplier awal, atau dalam hal ini petani?

Di sinilah dampak kedua terjadi. Yaitu harga beli produk dari petani yang kurang layak. Panjangnya alur rantai pasok membuat pihak industri dan distributor mencari celah untuk menetapkan harga beli serendah-rendahnya, dalam rangka meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara petani tak mempunyai pilihan, selain menjual produknya untuk segera menghabiskan stok yang ada, sehingga mendapatkan modal kembali untuk memulai produksi.

Dari dampak-dampak yang terjadi, kita sepakat bahwa pihak utama yang dirugikan dari resiko rantai pasok adalah supplier pertama (dalam hal ini petani) dan konsumen. Maka, seiring perkembangan waktu, muncullah gagasan untuk menciptakan bisnis terpadu yang memangkas jarak antara petani dengan konsumen, sehingga tercipta rantai pasok yang efektif dan efisien. Di sinilah startup pertanian menunjukkan tajinya.

Di Indonesia, saat ini sudah banyak bermunculan startup pertanian dalam berbagai skala industri. Dari yang memproduksi komoditas pertanian secara mandiri hingga bermitra dengan para petani. Namun, semuanya memiliki peran yang hampir sama, yakni menciptakan manufaktur dan distribusi yang terpadu dalam mengolah dan memasarkan produk pertanian.

Misi yang diemban, tentu ingin membantu petani dan memenuhi kebutuhan konsumen. Dengan adanya startup pertanian, hanya ada satu pelaku usaha di antara petani dan konsumen, sehingga rantai pasok menjadi lebih ringkas. Hal ini memungkinkan petani untuk dapat menjual hasil panennya dengan harga yang layak. Selain itu, harga jual produk ke konsumen juga dapat dipangkas. Hal ini belum termasuk resiko lainnya yang dapat diminimalisir, seperti adanya permainan harga di pihak distributor dan retailer, dan rumitnya akomodasi untuk mendistribusikan raw material hingga menjadi produk yang siap dibeli konsumen.

Lebih jauh, melihat startup pertanian yang tentu saja didukung oleh sumber daya manusia yang tech savvy, maka hal ini akan sangat membantu petani dan konsumen dari segi informasi. Petani dapat memperoleh informasi mengenai kebutuhan konsumen secara up to date, sehingga mereka dapat merencanakan produksi sejak dini, sehingga nantinya hasil panen dapat terserap oleh pasar secara maksimal. Teknologi informasi juga diimplementasikan dalam bentuk e-commerce yang sangat membantu konsumen, terutama mereka konsumen akhir tidak ingin repot-repot keluar rumah untuk membeli komoditas pertanian, atau konsumen industri yang membutuhkan raw material untuk diolah kembali. Semua aktivitas pembelian menjadi seamless.

Di era pandemi Covid-19 seperti ini, keberadaan startup pertanian semakin membuktikan manfaatnya. Kebijakan PSBB di berbagai daerah sedikit menyulitkan sektor transportasi dalam kegiatan distribusi produk. Walaupun kendaraan logistik diberikan pengecualian atas kebijakan PSBB, namun dengan adanya startup pertanian yang telah terintegrasi, komoditas pertanian tidak harus melalui alur distribusi yang berlapis, sehingga meminimalisir terjadinya keterlambatan pasokan, maupun kerusakan produk akibat dari lamanya waktu perjalanan.

Dan, situasi pandemi Covid-19 juga memberikan fakta, bahwa industri pertanian adalah salah satu sektor yang ga ada matinya!


Referensi

Ganeshan, Ram, and Terry P. Harrison. 1995. An Introduction to Supply Chain Management. Pennsylvania: Department of Management Sciences and Information Systems, 303 Beam Business Building, Penn State University, University Park.

Hugos, Michael H. 2011. Essentials of Supply Chain Management. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Lu, Dawei. 2011. Fundamentals of Supply Chain Management. Ventus Publishing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarjana Pertanian jadi Anak IT, Gelarnya Ga Kepake?

Bismillah, Assalamualaikum semuanyaa! Oke, kali ini gua pengen bikin tulisan yang sedikit ga formal yaa. Disclaimer  dulu, kalo tulisan ini dibuat bukan untuk sombong. Lagian, apa sih yang mau disombongin dari gua? Wkwkwk. Lebih tepatnya, tulisan ini buat meyakinkan kita semua, khususnya buat diri sendiri, terhadap dilema berkarir tapi ga sesuai jurusan. Atau, bingung di persimpangan antara menjadi spesialis, atau generalis. Well , semoga tulisan pengantar tidur ini bisa jadi sedikit motivasi buat temen-temen yang mengakhiri hari Senin ini dengan rasa capek. Long short story , setelah gua wisuda di Februari 2020, pandemi menyapa. Siapa si yang ga kena dampak coba? PHK di mana-mana, nyari kerja susah, yang kuliah jadi terhambat, macem-macem deh pokoknya. Termasuk gua, di mana setelah wisuda, gua pun sempet bingung, mau ngapain abis ini? Tiba-tiba aja, gua dapet inspirasi buat belajar UI design gara-gara ngeliat foto-foto mock up  di IG. Lalu, ketemu lah gua sama website Build ...